Buat yang patah hati

Remaja itu masih muda; belum tau banyak hal, belum sempat melihat dunia dengan kedua mata sendiri. But we’ve experienced a feeling that destroys our souls.¬†

Ya, siapa sih yg belum pernah patah hati? Mungin beberapa orang gak cuman patah. Bahkan habis itu potongannya diremes remes diinjekin sampe jadi serbuk. Terus serbukannya disapu dan dibuang ke tong sampah.ūüė¶ Ada yang separah itu gak?

Apalagi penyebabnya kalau bukan karena salah satu di antara sepasang manusia lelaki dan perempuan yang mengecewakan pihak satunya? Yak. Kalau disuruh jelasin patah hati itu kayak gimana, bisa dibilang rasanya itu kayak kecewa, marah, dan sedih yang dicampur aduk.

mixed emotion

But the important thing is how to handle this heartbreak. Pertanyaannya adalah, gimana cara ngelewatin fase ini?

Seringkali gue nanya temen, tapi jawabannya nggak jauh dari begini:

“Udahlah, dlan. Dia tuh banyak kekurangannya. Inilah, itulah. Lo yakin masih mau sayang sama dia?

Terus gue jawab aja begini :

“Tapi kan kalau udah cinta, kita¬†juga cinta¬†sama kekurangan kekurangannya, apapun itu.” #SalahSatuQuotesBasiTapiAdaBenernya

Patah hati udah keburu jadi penyakit yang obatnya tidak spesifik, jadi percuma aja bertanya ke siapapun, karena belum tentu orang lain bisa mengobati hatinya sendiri.

Sampai akhirnya gue inget sesuatu. Arief Muhammad pernah bilang begini di salah satu Vlognya.

Lo bakal lebih mudah ngelupain doi lo kalau udah nemuin orang yang baru.

Namun sayangnya dari quotes di atas, ada beberapa orang yang salah artiin.

Beberapa orang terlalu ngebut mencari orang baru. Kenapa ini salah?

Kita pernah (atau bahkan masih) mencintai seseorang begitu dalam dan begitu lamanya. Tentu gak bakal gampang buat nemuin seseorang yang baru begitu aja, apalagi kalau tujuan kita nemuin orang baru itu bisa dibilang sebagai tempat istirahat dari kesedihan kita doang. Kasarnya kalau kita terlalu buru buru pindah hati, perasaan kita ke orang baru tersebut adalah cinta yang dipaksakan. Sedangkan kalo ada unsur paksaan, namanya bukan sayang.

Maksud sebenarnya dari quotes di atas ituuuu, selagi berusaha move on, sering seringlah main keluar.  Jalan jalan, kenalan sama orang, bangun jaringan/link sama lingkungan baru. Dari situ, secara gak sadar kita berhasil beradaptasi dengan kehidupan tanpa adanya doi. Nah, mungkin sekalian juga dapet orang yang baru. Ini yang paling masuk akal, sih, walaupun pasti susah dan bakal butuh waktu. Tapi ya kalau gak usaha, nasibnya gak bakal ke mana mana kan?

Hikmah yang bisa kita ambil dari patah hati: Kita tidak seharusnya menyalahkan pihak lain soal penyebabnya. Ada dua hal yang seharusnya kita lakukan; yang pertama itu memaafkan. Ya, memaafkan dia dan memaafkan diri kita karena sempat menjadi orang yang tak pantas untuknya. Lalu, yang kedua adalah melupakan. Melupakan hal hal yang berkaitan dengan dia.

Starting today, I need to forget what’s gone. Appreciate what still remains and look forward to what comes next.” —¬†nemu di google

Di Balik Seseorang

A few weeks ago, jam 9 malem sahabat gue yang dari luar kota main ke rumah gue. Walaupun besoknya hari sekolah dan ada beberapa tugas, gue tetep ngebelain dia dateng jam segitu, karena emang kita jarang banget ketemu.

We had some good talk for quite a while. 

Cuman sebentar aja kita ngobrolin hal hal yang sepele, karena tau tau sahabat gue minta ngomong serius. Sahabat gue cerita tentang kondisi tubuh sama lingkungan yang lagi dia hadapin sama ini. Jujur aja gue kaget banget sahabat gue yang ini malah cerita ke gue dibanding orang lain.

Jam 11, akhirnya dia pulang ke rumah dan pamit karena harus pergi ke kota di mana dia tinggal sekarang.

Semenjak hari itu, gue sadar makin banyak orang orang yang suka ngeluapin kegelisahannya ke orang orang sekitar. Ya, gue sadar karena ada cukup banyak yang cerita ke gue tentang berbagai macam problem yang mereka punya. Mulai dari sahabat, temen sekelas, dan sepupu. Masalahnya pun beragam dari mulai yang agak sepele sampai rahasia pribadi yang melibatkan konflik keluarga sekalipun. Sebenernya kalau dipikir pikir, ini wajar aja. Kita tinggal di dunia di mana kita saling terikat dengan yang lainnya, di mana kita butuh satu sama lain, termasuk dengan cara curhat ke temen temen. Tapi anehnya, ada beberapa dari mereka yang memercayai gue dengan rahasia rahasia fatal yang seharusnya gak dikasihtauin ke siapa siapa. Padahal, gue sendiri merasa bahwa gue nggak bisa ngasih saran apa apa.

Di situ gue mulai heran. Kenapa mereka nggak nyari aja orang yang bisa membantu? Tapi lama kelamaan, gue nyimpulin jawaban sendiri.

Orang tuh cuma butuh didengerin aja.

Ya, kadang orang yang punya masalah cuma butuh didengerin aja. Jadi kalau ada orang yang mencurahkan isi hatinya, kita nggak ngasih saran pun gak apa apa, asalkan kita udah bisa jadi pendengar yang baik.

Dari sini, gue bisa belajar sesuatu. Ada hal yang bisa kita ambil dari mendengar keresahan, kesedihan, dan kebencian orang lain. Dari sini kita belajar untuk bisa mensyukuri hidup kita masing masing. Hidup yang seringkali kita keluhkan.

Kita terlalu banyak ngeluh, sehingga kita lupa nikmat apa aja yang udah kita punya. Dan karena terlalu sering mengeluh, kita jadi lupa bahwa masih banyak orang di luar sana yang ternyata masalahnya jauh lebih susah daripada kita.

Gue mulai memegang teguh satu fakta yang bunyinya’Everybody has their own story.” Kita emang nggak bisa melihat ‘story‘ itu dari luar. Mungkin aja orang yang ceria sebenernya punya kesedihan yang dipendam. Mungkin aja orang itu ngelawak bukan hanya untuk ngebuat orang lain tertawa, tapi juga untuk ngebuat dirinya sendiri tertawa. No one knows.¬†

disa

Berharap

“Jika aku menganggap ‘berharap’ itu sebuah dosa, apa aku bisa menganggap ‘kecewa’ ¬†sebagai hukuman dari dilakukannya dosa tersebut?

Apakah berharap suatu tindakan fatal? Ya, karena jika sesuatu yang kita harapkan terjadi berkebalikan, hanya rasa kecewa yang muncul.

Ya. kecewa yang tak tahu harus tertuju ke siapa. Karena sebenarnya, harapan kita sendirilah yang membuat kita menjadi kecewa.

Bener gak, sih?

Perbedaan Cewek dan Cowok Ketika Ke Toilet

Pada suatu hari, ada dua kelompok abege labil lagi makan di sebuah restoran yang ramai; segerombolan cowo dan segerombolan cewek di meja yang berbeda. Selagi asyik ngobrol, salah satu cowok ada yang pengen eek di toilet.

GENG COWOK

Joko : eh, gue ke toilet dulu yak. Sebentar.
Wowo : oke.
Budi : yaudah sono.
*2 menit kemudian*
Joko : Yo. sorry lama.
Wowo : Lu cebok gak bener ya nyong? Kok bau.
Budi : Ada bercak eek masih nempel di pantat lu kali.

Tak lama kemudian, salah satu dari geng cewek ada yang mau pipis.

GENG CEWEK

Nisa : Kayaknya gue harus pipis deh. Bentar ya.
Continue reading

The Come-and-Go Theory

Kali ini gue bakal ngomongin suatu hal yang berkaitan dengan fase pdkt. Saat kita mulai merasa lelah dengan sikap doi, mungkin beberapa dari kita akan berpikir,

Gue istirahat dulu aja kali, ya.

im tired

Biasanya, pemikiran itu datang pas kita lagi bener bener pasrah sama situasi yang kita hadapin dengan doi. Saking pasrahnya, ada yang sampai mikir untuk¬†nyerahin semuanya sama Tuhan aja, daripada¬†disakitin¬†lebih dalam lagi. Yaaaa bisa dibilang ‘istirahat permanen’, sih.

Namun sayangnya,
saat kita sudah menjalani hari hari seperti biasa,
saat kita sudah matang matang mempersiapkan mental untuk melupakan dirinya,

DOI MALAH NGEDATENGIN KITA.

Kenapa doi harus datang saat kita lagi di kondisi kayak begitu. Jadi bingung nggak, sih? Kesel nggak, sih? Rasanya campur aduk tau, nggak?

Kita jadi nyesek karena niat kita digagalin, TAPI senengnya kayak eek juga gara gara dicariin. 

Terus akhirnya, kita jadi semangat lagi buat ngejalanin ulang cerita cinta kita

Namun, pada suatu saat nanti kita mungkin bisa jadi pasrah lagi, dan siklus ini pun bisa terus berulang.

Kenapa gue bilang ini sebuah teori?

“Manusia akan merasa¬†kangen saat ada seseorang menjadi jarang kelihatan atau telah pergi dari kehidupannya.”

Ini sering terulang pada diri gue sendiri dan juga kepada banyak temen temen gue yang lain. Gue juga yakin, sebagian besar dari kalian pasti pernah ngalamin hal yang sama, kan?

Tapi, bung, teori kayak gini juga bisa meleset.

Mungkin saat kita jadi pasrah, di sisi lain mereka juga ngerasa capek sama diri kita. Dua-duanya nggak nyariin satu sama lain, jadinya hubungannya kelar gitu aja. Kalau jadinya seperti ini, itu sih derita lo. HAHA.

SUMBER FOTO : LINK

Penyesalan (pt.2)

“Tak ada usaha yang sia sia. Karena jika kamu sudah mati-matian berusaha namun tetap tidak mendapat apa yang kamu harapkan darinya, kamu akan sadar bahwa itu memang bukan untukmu.

Karena jika saja tak pernah kamu coba, kamu akan menghabiskan hidupmu dalam tanda tanya.”

— Tia Setiawati

Penyesalan

Uang berkata, “Dapetin aku, lupain semuanya.”
Waktu berkata, “Ikutin aku, lupain semuanya.”
Kemudian, pujaan hati bilang, “Berjuang untukku, lupain semuanya.”

Tanpa disadari, banyak usaha serta pengorbanan¬†yang dilakukan dalam menempuh suatu cerita cinta. Kok bisa tanpa sadar? Ya, karena seseorang yang sekarang biasa disebut “Doi” adalah seekor babi, yang bisa membuat kita¬†membabi buta demi dia.

Ada juga waktu di mana kita menjadi sadar atas pengorbanan yang sudah kita lakukan, yaitu saat semua usaha kita tidak memberikan hasil.

“Ah bego kenapa waktu¬†itu gua beliin boneka panda super gede¬†yang mahal banget.”

Yang lebih parah, “OHYA ANJ***NG KAN ITU BELINYA PAKE DUIT BOKAP.” Singkat cerita, duit jajan lu dipotong selama beberapa bulan.

Pengorbanan yang sia-sia bisa dibilang sebagai pengorbanan yang tidak dihargai oleh pihak satunya. Jarang sekali ada manusia yang merasa yang tak acuh saat hal itu terjadi. Dan saat semua perjuangan kita tidak dihargai, muncul lah penyesalan, karena sejujurnya, siapa juga yang mau usahanya diiinjak injak begitu saja?

Tapi, sebagai layaknya pria sejati, kita tidak boleh menyesali semua yang sudah diberikan kepada orang yang kita cintai, walaupun pemberian tersebut tidak ‘dianggap’. Tentunya tidak akan mudah untuk melakukan hal ini, karena logika pun bertanya, “Kok bisa sih lo gak nyesel?”¬† Continue reading

Sifat Manusia yang Fatal

Manusia terlalu cepat menilai. SeCepet guru yang ngenilai ulangan gue yang jawabannya banyak ngasal. 

Kadang, kita terlalu cepat memberi opini, jawaban, dan keputusan atas hal hal atau fenomena yang belum terselesaikan dan yang mungkin juga bukan suatu kebenaran.

Dalam sebuah cerita (tidak semua), gue percaya bahwa ada sebuah ‘backstory’ yang jarang diberitahukan kepada orang yang mendengar cerita tersebut.

father

Ini adalah salah satu contoh peristiwa di mana orang terlalu cepat menilai, dan juga contoh suatu peristiwa di mana seseorang memiliki cerita yang tidak diketahui oleh yang lain.

Sifat manusia yang terlalu cepat menilai inilah yang menjadi salah satu faktor gosip, fitnah, dan juga konflik di negara kita. Dan karena sifat itu juga, manusia jadi menghakimi secara tidak adil.

Kita bisa mengambil peristiwa pemerkosaan sebagai contoh. Bodohnya, sebagian orang akan berpikir,
“Oh lagian sih make baju yang terbuka buka.”
Atau bahkan yang lebih parah, “Ah paling dia bohong tuh tentang diperkosa, padahal nikmat juga.”

Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena sepersekian bagian kejadian tersebut hanya kita ketahui lewat media. Orang orang yang menyalahi situasi pemerkosaan seperti ini tidak layak untuk membuka mulutnya lagi. Tidak ada yang berhak untuk merampas tubuh orang lain. Komentar seperti di atas, menurut pendapat personal, adalah komentar dari orang yang tak berperasaan dan memiliki logika kucing.

Bagaimana jika kalian adalah orang yang diperkosa, lalu kalian mendengar opini seperti itu dari orang lain?

Jangan menilai orang hanya dengan prinsip dasarmu. Sebelumnya, nilai saja dirimu sendiri, memangnya kamu sudah jadi manusia sempurna?

Intinya, kita harus memiliki informasi yang komplit terlebih dahulu sebelum kita menilai suatu hal.

Misalnya, jika kalian mendengar berita politik yang menginjak nama baik seseorang, jangan mudah untuk percaya. Sangat susah bagi masyarakat untuk mengetahui kisah atau konflik politik yang sebenarnya, kecuali kita memang terlibat dengan konflik tersebut secara langsung. Mengapa demikian?

Media massa tak jarang kejam. Media menutupi hal hal yang seharusnya diketahui oleh masyarakat, entah untuk membuatnya semakin baik ataupun buruk.

Jadi, siapa yang harus disalahkan? Masyarakatkah? Orang orang yang dibicarakan di beritakah? atau media massa?

Tidak ada yang bisa disalahkan, karena semua itu sudah menjadi bagian dari dunia politik di jaman ini.

Tapi, ada satu yang dapat kita rubah, yaitu cara menerima dan juga cara mengelola informasi tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Ya, ubahlah sikap dalam diri kita yang terlalu cepat menilai dan juga ubahlah cara kita menghakimi terhadap peristiwa sehari-hari.