Sikat Gigi

Malam ini dingin
Bintang tersebar di langit malam
Bagai berlian yang tersebar diatas batuan hitam

Di sisi lain
Sinar hiruk-pikuk kota metropolitan terlihat samar di langit malam
Sehingga terbentuk gradasi dengan cahaya bintang
Indah, khas lukisan Illahi

Namun ada yang ganjil
Keindahan ini tetap tak bisa hapuskan kau dari bayanganku
Tak bisa hilangkan perasaan ini
Tak bisa hancurkan cengkraman kuat ini dari hatiku

Malam semakin dingin dan larut
Kupilih masuk ke dalam gubuk yang mereka sebut rumah
Ya, gubuk
karena rumah adalah tempat hatiku berada
Sedangkan hatiku berada entah dimana mencari sosokmu yang semu

Aku berjalan ke dalam ruang lembab itu
Kuambil sebatang sikat gigi
Kemudian kukeluarkan sedikit isi pasta gigi
Segar, aromanya

Kusikat perlahan demi perlahan
Kunikmati sedikit demi sedikit sikatan tersebut
Hening
Hanya terdengar suara sikatan

Untuk sepersekian detik dalam hidupku
Aku dapat melupakanmu
Menikmati keheningan dan kenikamatan suara sikat gigi
Nikmaaat sekali

Selesai sudah
Aku kembali memikirkanmu
Namun apa dayaku?
Ketika aku sadar kau hanya habiskan seperseribu waktumu untuk memikirkan aku

Di Balik Seseorang

A few weeks ago, jam 9 malem sahabat gue yang dari luar kota main ke rumah gue. Walaupun besoknya hari sekolah dan ada beberapa tugas, gue tetep ngebelain dia dateng jam segitu, karena emang kita jarang banget ketemu.

We had some good talk for quite a while. 

Cuman sebentar aja kita ngobrolin hal hal yang sepele, karena tau tau sahabat gue minta ngomong serius. Sahabat gue cerita tentang kondisi tubuh sama lingkungan yang lagi dia hadapin sama ini. Jujur aja gue kaget banget sahabat gue yang ini malah cerita ke gue dibanding orang lain.

Jam 11, akhirnya dia pulang ke rumah dan pamit karena harus pergi ke kota di mana dia tinggal sekarang.

Semenjak hari itu, gue sadar makin banyak orang orang yang suka ngeluapin kegelisahannya ke orang orang sekitar. Ya, gue sadar karena ada cukup banyak yang cerita ke gue tentang berbagai macam problem yang mereka punya. Mulai dari sahabat, temen sekelas, dan sepupu. Masalahnya pun beragam dari mulai yang agak sepele sampai rahasia pribadi yang melibatkan konflik keluarga sekalipun. Sebenernya kalau dipikir pikir, ini wajar aja. Kita tinggal di dunia di mana kita saling terikat dengan yang lainnya, di mana kita butuh satu sama lain, termasuk dengan cara curhat ke temen temen. Tapi anehnya, ada beberapa dari mereka yang memercayai gue dengan rahasia rahasia fatal yang seharusnya gak dikasihtauin ke siapa siapa. Padahal, gue sendiri merasa bahwa gue nggak bisa ngasih saran apa apa.

Di situ gue mulai heran. Kenapa mereka nggak nyari aja orang yang bisa membantu? Tapi lama kelamaan, gue nyimpulin jawaban sendiri.

Orang tuh cuma butuh didengerin aja.

Ya, kadang orang yang punya masalah cuma butuh didengerin aja. Jadi kalau ada orang yang mencurahkan isi hatinya, kita nggak ngasih saran pun gak apa apa, asalkan kita udah bisa jadi pendengar yang baik.

Dari sini, gue bisa belajar sesuatu. Ada hal yang bisa kita ambil dari mendengar keresahan, kesedihan, dan kebencian orang lain. Dari sini kita belajar untuk bisa mensyukuri hidup kita masing masing. Hidup yang seringkali kita keluhkan.

Kita terlalu banyak ngeluh, sehingga kita lupa nikmat apa aja yang udah kita punya. Dan karena terlalu sering mengeluh, kita jadi lupa bahwa masih banyak orang di luar sana yang ternyata masalahnya jauh lebih susah daripada kita.

Gue mulai memegang teguh satu fakta yang bunyinya’Everybody has their own story.” Kita emang nggak bisa melihat ‘story‘ itu dari luar. Mungkin aja orang yang ceria sebenernya punya kesedihan yang dipendam. Mungkin aja orang itu ngelawak bukan hanya untuk ngebuat orang lain tertawa, tapi juga untuk ngebuat dirinya sendiri tertawa. No one knows. 

disa

Berharap

“Jika aku menganggap ‘berharap’ itu sebuah dosa, apa aku bisa menganggap ‘kecewa’  sebagai hukuman dari dilakukannya dosa tersebut?

Apakah berharap suatu tindakan fatal? Ya, karena jika sesuatu yang kita harapkan terjadi berkebalikan, hanya rasa kecewa yang muncul.

Ya. kecewa yang tak tahu harus tertuju ke siapa. Karena sebenarnya, harapan kita sendirilah yang membuat kita menjadi kecewa.

Bener gak, sih?

The Come-and-Go Theory

Saat kita mulai merasa lelah dengan sikap doi, mungkin beberapa dari kita akan berpikir,

Gue istirahat dulu aja kali, ya.

im tired

Biasanya, pemikiran itu datang pas kita lagi bener bener pasrah sama situasi yang kita hadapin dengan doi. Saking pasrahnya, ada yang sampai mikir untuk nyerahin semuanya sama Tuhan aja, daripada disakitin lebih dalam lagi. Yaaaa bisa dibilang ‘istirahat permanen’, sih.

Namun sayangnya,
saat kita sudah menjalani hari hari seperti biasa,
saat kita sudah matang matang mempersiapkan mental untuk melupakan dirinya,

DIA MALAH NGEDATENGIN KITA.

Kenapa doi harus datang saat kita lagi di kondisi kayak begitu. Jadi bingung nggak, sih? Kesel nggak, sih? Rasanya campur aduk tau, nggak?

Kita jadi nyesek karena niat kita digagalin, TAPI senengnya kayak eek juga gara gara dicariin. 

Terus akhirnya, kita jadi semangat lagi buat ngejalanin ulang perjuangan untuk memikat hatinya.

Namun, pada suatu saat nanti kita mungkin bisa jadi pasrah lagi, dan siklus ini pun bisa terus berulang. Orang berkata,

“Manusia akan merasa kangen saat ada seseorang menjadi jarang kelihatan atau telah pergi dari kehidupannya.”

 

Sebenarnya pihak lain pun akan merasa kehilangan juga, walaupun hanya sesaat. Namun, rasa gengsi yang mengesampingkan rasa kangen tersebut, tetap tersembunyi dari pejuang pejuang cinta yang sedang menghabiskan waktunya dalam tanda tanya.

 

SUMBER FOTO : LINK

Penyesalan

“Tak ada usaha yang sia sia. Karena jika kamu sudah mati-matian berusaha namun tetap tidak mendapat apa yang kamu harapkan darinya, kamu akan sadar bahwa itu memang bukan untukmu.

Karena jika saja tak pernah kamu coba, kamu akan menghabiskan hidupmu dalam tanda tanya.”

— Tia Setiawati

Sifat Manusia yang Fatal

Manusia terlalu cepat menilai. SeCepet guru yang ngenilai ulangan gue yang jawabannya banyak ngasal. 

Kadang, kita terlalu cepat memberi opini, jawaban, dan keputusan atas hal hal atau fenomena yang belum terselesaikan dan yang mungkin juga bukan suatu kebenaran.

Dalam sebuah cerita (tidak semua), gue percaya bahwa ada sebuah ‘backstory’ yang jarang diberitahukan kepada orang yang mendengar cerita tersebut.

father

Ini adalah salah satu contoh peristiwa di mana orang terlalu cepat menilai, dan juga contoh suatu peristiwa di mana seseorang memiliki cerita yang tidak diketahui oleh yang lain.

Sifat manusia yang terlalu cepat menilai inilah yang menjadi salah satu faktor gosip, fitnah, dan juga konflik di negara kita. Dan karena sifat itu juga, manusia jadi menghakimi secara tidak adil.

Kita bisa mengambil peristiwa pemerkosaan sebagai contoh. Bodohnya, sebagian orang akan berpikir,
“Oh lagian sih make baju yang terbuka buka.”
Atau bahkan yang lebih parah, “Ah paling dia bohong tuh tentang diperkosa, padahal nikmat juga.”

Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena sepersekian bagian kejadian tersebut hanya kita ketahui lewat media. Orang orang yang menyalahi situasi pemerkosaan seperti ini tidak layak untuk membuka mulutnya lagi. Tidak ada yang berhak untuk merampas tubuh orang lain. Komentar seperti di atas, menurut pendapat personal, adalah komentar dari orang yang tak berperasaan dan memiliki logika kucing.

Bagaimana jika kalian adalah orang yang diperkosa, lalu kalian mendengar opini seperti itu dari orang lain?

Jangan menilai orang hanya dengan prinsip dasarmu. Sebelumnya, nilai saja dirimu sendiri, memangnya kamu sudah jadi manusia sempurna?

Intinya, kita harus memiliki informasi yang komplit terlebih dahulu sebelum kita menilai suatu hal.

Misalnya, jika kalian mendengar berita politik yang menginjak nama baik seseorang, jangan mudah untuk percaya. Sangat susah bagi masyarakat untuk mengetahui kisah atau konflik politik yang sebenarnya, kecuali kita memang terlibat dengan konflik tersebut secara langsung. Mengapa demikian?

Media massa tak jarang kejam. Media menutupi hal hal yang seharusnya diketahui oleh masyarakat, entah untuk membuatnya semakin baik ataupun buruk.

Jadi, siapa yang harus disalahkan? Masyarakatkah? Orang orang yang dibicarakan di beritakah? atau media massa?

Tidak ada yang bisa disalahkan, karena semua itu sudah menjadi bagian dari dunia politik di jaman ini.

Tapi, ada satu yang dapat kita rubah, yaitu cara menerima dan juga cara mengelola informasi tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Ya, ubahlah sikap dalam diri kita yang terlalu cepat menilai dan juga ubahlah cara kita menghakimi terhadap peristiwa sehari-hari.

Lebih Baik

Sesekali kita perli menyendiri. Menyendiri untuk berpikir saja. Berpikir tentang diri kita dan hal hal yang telah kita lakukan selama ini, lalu bertanya,

“Have I become a good person?”

Definisikanlah kata ‘good’ (baik) yang sesuai dengan diri kita dan situasi sekitar, karena tingkat ‘kebaikan’ itu bisa tergantung dengan lingkungan di mana kita berada. Namun, ada beberapa hal umum lainnya juga yang dapat kita pertimbangkan;

Apa kita bermanfaat bagi orang lain? Apakah kehadiran kita merupakan suatu kerugian atau tidak bagi orang orang sekitar kita? Continue reading

“Bahkan, seseorang yang kau panggil dengan panggilan sayang ‘Baby‘, bisa sekejap berubah menjadi seseorang yang pantas untuk dipanggil ‘Babi’.”

— dari sisi hati gua yang paling ancur.

Berubah

Berubah. (love)

Satu kata yang mungkin membawa kekesalan, kekecewaan, dan juga kebingungan.

Suatu perubahan terjadi di dalam sebuah hubungan. Entah hubungan persahabatan, keluarga, ataupun hubungan dengan ‘dia’ yang kita istimewakan. Namun, perubahan dalam ketiganya pun bisa terjadi secara bersamaan, entah membaik atau memburuk.

Dan di saat kita bertanya, Kenapa semuanya berbeda dari yang dulu?
Kenapa tiba tiba begini?

Kemudian, sang wanita menjawab dengan kata kata penusuknya. “Pikir ae sendiri.”

Lalu, mungkin di antara mereka ada yang memberi jawaban dan juga tidak menjawab apa apa. Tapi kedua hal tersebut akan tetap membuat kita berpikir, bahwa kitalah yang menyebabkan suatu perubahan tersebut terjadi.  Continue reading

Dadah 2015

Sebentar lagi 2016. Gak kerasa, 365 hari terasa cepet banget, secepat gue ngebales chat lo tapi lo yang balesnya lama banget.

Sebentar lagi juga saatnya orang orang bakal nulis di socmed atau blog tentang “new year new me” dan “wishlist” “resolusi 2016” blablabla

Jujur 2015 bagi gue itu tahun yang paling berkesan banget, karena kelas 11 tuh masa masa paling asik deh kalo di SMA. Selain udah jadi senior yang gak digalak galakin lagi kayak dulu, cerita cinta di kelas gue sekarang lagi bener bener dipuncaknya. Ini gara gara pas naik kelas 11 anak anaknya gak diacak lagi, jadi temen temennya sama aja kayak kelas 10. Inilah yang jadi sebab munculnya bibit bibit cinta di kelas. Dan gara gara mikirin bullshit cinta yang gak kelar kelar, nilai gue jadi labil yang berujung diceramahin nyokap.

Telah tiba juga saatnya di mana orang tua bakal nyuruh makanya untuk ngelakuin sesuatu yang produktif di liburan ini. Ya Allah mak lagi capek abis sekolah gini masih ae disuruh ngelakuin hal hal produktif.

Dan di akhir tahun 2015 ini, gue gak nyangka banget kalo akhirnya GUE JADI NGEFANS SAMA JUSTIN BIEBER. Gak cuma gue doang sih, gue yakin banyak juga cowok di sana yang jadi tergila gila sama 3 lagunya n. Selain liriknya yang ngepet, iramanya juga “wah” jadi wajar aja kalo sekarang banyak yang suka sama doi.

Anyway happy new year!