Sifat Manusia yang Fatal

Manusia terlalu cepat menilai. SeCepet guru yang ngenilai ulangan gue yang jawabannya banyak ngasal. 

Kadang, kita terlalu cepat memberi opini, jawaban, dan keputusan atas hal hal atau fenomena yang belum terselesaikan dan yang mungkin juga bukan suatu kebenaran.

Dalam sebuah cerita (tidak semua), gue percaya bahwa ada sebuah ‘backstory’ yang jarang diberitahukan kepada orang yang mendengar cerita tersebut.

father

Ini adalah salah satu contoh peristiwa di mana orang terlalu cepat menilai, dan juga contoh suatu peristiwa di mana seseorang memiliki cerita yang tidak diketahui oleh yang lain.

Sifat manusia yang terlalu cepat menilai inilah yang menjadi salah satu faktor gosip, fitnah, dan juga konflik di negara kita. Dan karena sifat itu juga, manusia jadi menghakimi secara tidak adil.

Kita bisa mengambil peristiwa pemerkosaan sebagai contoh. Bodohnya, sebagian orang akan berpikir,
“Oh lagian sih make baju yang terbuka buka.”
Atau bahkan yang lebih parah, “Ah paling dia bohong tuh tentang diperkosa, padahal nikmat juga.”

Kita tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi sebenarnya, karena sepersekian bagian kejadian tersebut hanya kita ketahui lewat media. Orang orang yang menyalahi situasi pemerkosaan seperti ini tidak layak untuk membuka mulutnya lagi. Tidak ada yang berhak untuk merampas tubuh orang lain. Komentar seperti di atas, menurut pendapat personal, adalah komentar dari orang yang tak berperasaan dan memiliki logika kucing.

Bagaimana jika kalian adalah orang yang diperkosa, lalu kalian mendengar opini seperti itu dari orang lain?

Jangan menilai orang hanya dengan prinsip dasarmu. Sebelumnya, nilai saja dirimu sendiri, memangnya kamu sudah jadi manusia sempurna?

Intinya, kita harus memiliki informasi yang komplit terlebih dahulu sebelum kita menilai suatu hal.

Misalnya, jika kalian mendengar berita politik yang menginjak nama baik seseorang, jangan mudah untuk percaya. Sangat susah bagi masyarakat untuk mengetahui kisah atau konflik politik yang sebenarnya, kecuali kita memang terlibat dengan konflik tersebut secara langsung. Mengapa demikian?

Media massa tak jarang kejam. Media menutupi hal hal yang seharusnya diketahui oleh masyarakat, entah untuk membuatnya semakin baik ataupun buruk.

Jadi, siapa yang harus disalahkan? Masyarakatkah? Orang orang yang dibicarakan di beritakah? atau media massa?

Tidak ada yang bisa disalahkan, karena semua itu sudah menjadi bagian dari dunia politik di jaman ini.

Tapi, ada satu yang dapat kita rubah, yaitu cara menerima dan juga cara mengelola informasi tentang apa yang terjadi di sekitar kita. Ya, ubahlah sikap dalam diri kita yang terlalu cepat menilai dan juga ubahlah cara kita menghakimi terhadap peristiwa sehari-hari.

Lebih Baik

Sesekali kita perli menyendiri. Menyendiri untuk berpikir saja. Berpikir tentang diri kita dan hal hal yang telah kita lakukan selama ini, lalu bertanya,

“Have I become a good person?”

Definisikanlah kata ‘good’ (baik) yang sesuai dengan diri kita dan situasi sekitar, karena tingkat ‘kebaikan’ itu bisa tergantung dengan lingkungan di mana kita berada. Namun, ada beberapa hal umum lainnya juga yang dapat kita pertimbangkan;

Apa kita bermanfaat bagi orang lain? Apakah kehadiran kita merupakan suatu kerugian atau tidak bagi orang orang sekitar kita? Continue reading