Beberapa Post Lucu di Secret

Akhir tahun 2014, mulai ngetrend socmed baru yang namanya Secret. Gue yakin banget pasti udah pada download semua kan? Jadi aplikasi ini mirip twitter, cuma bedanya gak pake account gitu, jadi semuanya dibuat anonymous. Jadi misalnya kalian ngepos sesuatu di secret, orang orang yang tinggal di kota yang sama bakalan bisa ngeliat postingan kalian. Appnya lumayan seru loh buruan download, apalagi yang kerjaannya tiduran di rumah doang.

Ohya akhir akhir ini gue nemu beberapa postingan yang lumayan gokil di secret. Ada satu yang bikin gue ngakak parah. Penasaran? Cekidot! Continue reading

Game Review – Adventure Quest Worlds

Adventure Quest Worlds, atau biasanya dipanggil AQW, adalah web-based MMO game yang mendunia, tidak hanya di Indonesia saja. Sekitar 20 juta account telah terbuat, dan sekitar 1,000,000 pemain yang aktif. Tidak seperti Lost Saga atau Point Blank yang dasarnya player vs player, game ini mementingkan bersosialisasi dengan player lainnya. Tapi, aksi berantemnya juga gak kalah dong. Setiap minggunya ada acara/event yang terbaru, misi/quests yang perlu diselesaikan, items yang keren, dan juga alur cerita yang luar biasa!  Continue reading

SMP Di Luar Negeri

Btw, ini lanjutan dari post sebelumnya.

First Day Of Freaking School

Sekolah gue bernama Darwin Middle School. Sekolah ini adalah SMP, sedangkan gue sewaktu pindah masih menduduki bangku kelas 6 dan belum mendapat ijasah SD karena pindah ke Australia sebelum Ujian Nasional. Akan tetapi, untuk masuk salah satu SMP di kota Darwin nggak membutuhkan ijasah SD. Setidaknya, hanya di tes kemampuan bahasa inggris. Simple, nggak usah repot repot. Begitu pula dengan tahun ajarannya yang berbeda dengan Indonesia. Tahun ajaran dimulai pada bulan Januari, sedangkan di Indonesia dimulai pada bulan Juli. Jadi, jika temen temen gue masuk SMP kelas 1, gue udah SMP kelas 1 semester 2.

Bel masuk kelas adalah pada jam 8.00 dan pulang sekolah pada jam 2.30. Ini beda banget dengan Jakarta yang masuk sekolah pada jam 6.30 dikarenakan oleh macet. Tapi, kota Darwin nggak pernah macet. Kalaupun macet, pasti karena ada sesuatu yang terjadi seperti tabrakan dan semacamnya. Seragamnya kaos berkerah dan celana hitam pendek. Seperti yang dikira banyak orang, sekolah di luar negeri seragamnya bebas, tapi di Darwin cuma SMA yang boleh pakai baju bebas. Tibalah saatnya gue masuk sekolah tersebut.

Sekolah gue ini adalah sekolah negeri. Walaupun judulnya sekolah negeri, jangan bayangkan fasilitasnya seperti sekolah negeri di Indonesia, karena fasilitas sekolah di sini hanya bisa kita temui di Indonesia pada sekolah-sekolah internasional atau sekolah swasta elite dengan biaya bersekolah yang teramat mahal tentunya. Fasilitasnya sangat lengkap. Tiap ruangan, kira kira tersedia 20 laptop jika ada tugas yang berkaitan dengan internet. Di ruang musik juga ada banyak banget instrumennya! Keyboard kira kira ada 10. Gitar ada 20. Lahan olahraga seluas lebih dari lapangan sepak bola untuk pelajaran olahraga. Peralatan masak yang lengkap untuk pelajaran Home Economics (masak) dan juga fasilitas Gym yang dibuka saat istirahat.

Pada hari pertama, gue temenin sama nyokap dan bokap naik bus ke sekolah. Pada hari hari selanjutnya, nyokap bilang udah harus bias naik bus sekolah bareng sama temen temen yang lain. Gue, nyokap dan bokap harus duduk duduk dulu di Tata Usaha karena ada hal yang harus diurus. Lalu, datanglah seorang guru perempuan, yang umurnya masih sekitar 20-an kayaknya. Ternyata dia guru gue. Dia senyum ke arah gue, lalu ngomong sesuatu dalam bahasa inggris.

“Okay, les camm to our clazz. Iz thhsi yoarsa feesst deii? Yuweil be fine!”

Dalam hati gue: HAH?! BAHASA INGGRIS ATAU BAHASA BUBUR TUH?

Kira kira, itulah yang gue denger dari dia. Ya pokoknya gue pamit sama orang tua, terus ngikutin dia jalan ke kelas. Keluar dari ruang tata usaha, gue deg deg-an banget. Ini di sekeliling gue orang bule semua. Ngomongnya cas cis cus. Terlebih lagi, orangnya tinggi tinggi. Gue merasa kayak yang paling pendek di sekolah ini. Lalu, gue ke kelas. Semua orang pada ngeliatin gue.

 

That awkward moment, when the whole class stares at you, because you’re the new kid.

Gue bengong. Gak ada satupun murid yang nggak ngeliatin gue. Guru gue bilang ke gue “Go and introduce yourself.” Murid baru tentunya harus memperkenalkan diri. Di rumah, gue sudah menyiapkan apa yang harus dibicarakan saat perkenalan. Dulu waktu kursus bahasa Inggris di EF, gue biasa di panggil “Heycool” atau “Haykel” oleh guru guru bule. Jadi gue memutuskan untuk memperkenalkan nama “Haikal” dengan panggilan yang sama. Biar keren dikit lah.

“My name is Haykel, I’m from Indonesia. Nice to meet you.”

Habis itu, gue disuruh duduk sama gurunya. Anak anak laki laki dikelas langsung nyodorin tangannya ke gue. Yah, langsung gue salamin aja. Setelah itu mereka terlihat bingung, dan bilang, “That’s not how you do it in Aussie.” Si orang yang ngajak gue salaman tiba tiba megang tangan gue, lalu memperagakan salam khas Australia. Terus, dia bilang “Do you get it?” Karena masih bingung, gue cuma bilang “yes yes yes” doang.

Saat istirahat, nggak ada murid yang dibolehin untuk masuk ke dalam kelas. Jadi semuanya harus berada di luar. Iya, tas juga harus ditenteng. Saat istirahat gue cuma duduk di kursi aja, sambil ngeliatin orang orang yang ada di sekitar. Dari situ, gue mulai berpikir bahwa kehidupan gue yang baru ini bakal lebih keras dan susah. Kehidupan baru, semangat baru. Semangat yang kurang semangat

Alat Musik Tradisional Gamelan

Pasti semuanya udah dengerkan yang namanya Gamelan? Gamelan adalah ensembel musik yang terdiri dari bonang, gong, gendang, saron, dan lain lain. Gue sendiri gak tau lagi apa nama nama alat musiknya. Yang pentingkan tau cara mainnya, haha. Gamelan banyak ditampilkan di pulau Jawa, Bali, dan sekitarnya.

Akhir akhir ini, gue ikutan grup Gamelan Indonesia di Darwin, Australia. Baru bulan Juli ikut, dan langsung ditempatkan di posisi yang memimpin, yaitu Bonang. Gue nggak tau kenapa gue langsung ditaro disitu. Harusnya gue itu diposisi yang lebih gampangan dikit. Soalnya menurut gue, ditaro di Bonang itu lumayan susah.  Continue reading