Di Balik Seseorang

A few weeks ago, jam 9 malem sahabat gue yang dari luar kota main ke rumah gue. Walaupun besoknya hari sekolah dan ada beberapa tugas, gue tetep ngebelain dia dateng jam segitu, karena emang kita jarang banget ketemu.

We had some good talk for quite a while. 

Cuman sebentar aja kita ngobrolin hal hal yang sepele, karena tau tau sahabat gue minta ngomong serius. Sahabat gue cerita tentang kondisi tubuh sama lingkungan yang lagi dia hadapin sama ini. Jujur aja gue kaget banget sahabat gue yang ini malah cerita ke gue dibanding orang lain.

Jam 11, akhirnya dia pulang ke rumah dan pamit karena harus pergi ke kota di mana dia tinggal sekarang.

Semenjak hari itu, gue sadar makin banyak orang orang yang suka ngeluapin kegelisahannya ke orang orang sekitar. Ya, gue sadar karena ada cukup banyak yang cerita ke gue tentang berbagai macam problem yang mereka punya. Mulai dari sahabat, temen sekelas, dan sepupu. Masalahnya pun beragam dari mulai yang agak sepele sampai rahasia pribadi yang melibatkan konflik keluarga sekalipun. Sebenernya kalau dipikir pikir, ini wajar aja. Kita tinggal di dunia di mana kita saling terikat dengan yang lainnya, di mana kita butuh satu sama lain, termasuk dengan cara curhat ke temen temen. Tapi anehnya, ada beberapa dari mereka yang memercayai gue dengan rahasia rahasia fatal yang seharusnya gak dikasihtauin ke siapa siapa. Padahal, gue sendiri merasa bahwa gue nggak bisa ngasih saran apa apa.

Di situ gue mulai heran. Kenapa mereka nggak nyari aja orang yang bisa membantu? Tapi lama kelamaan, gue nyimpulin jawaban sendiri.

Orang tuh cuma butuh didengerin aja.

Ya, kadang orang yang punya masalah cuma butuh didengerin aja. Jadi kalau ada orang yang mencurahkan isi hatinya, kita nggak ngasih saran pun gak apa apa, asalkan kita udah bisa jadi pendengar yang baik.

Dari sini, gue bisa belajar sesuatu. Ada hal yang bisa kita ambil dari mendengar keresahan, kesedihan, dan kebencian orang lain. Dari sini kita belajar untuk bisa mensyukuri hidup kita masing masing. Hidup yang seringkali kita keluhkan.

Kita terlalu banyak ngeluh, sehingga kita lupa nikmat apa aja yang udah kita punya. Dan karena terlalu sering mengeluh, kita jadi lupa bahwa masih banyak orang di luar sana yang ternyata masalahnya jauh lebih susah daripada kita.

Gue mulai memegang teguh satu fakta yang bunyinya’Everybody has their own story.” Kita emang nggak bisa melihat ‘story‘ itu dari luar. Mungkin aja orang yang ceria sebenernya punya kesedihan yang dipendam. Mungkin aja orang itu ngelawak bukan hanya untuk ngebuat orang lain tertawa, tapi juga untuk ngebuat dirinya sendiri tertawa. No one knows. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s