Berubah

Berubah. (love)

Satu kata yang mungkin membawa kekesalan, kekecewaan, dan juga kebingungan.

Suatu perubahan terjadi di dalam sebuah hubungan. Entah hubungan persahabatan, keluarga, ataupun hubungan dengan ‘dia’ yang kita istimewakan. Namun, perubahan dalam ketiganya pun bisa terjadi secara bersamaan, entah membaik atau memburuk.

Dan di saat kita bertanya, Kenapa semuanya berbeda dari yang dulu?
Kenapa tiba tiba begini?

Kemudian, sang wanita menjawab dengan kata kata penusuknya. “Pikir ae sendiri.”

Lalu, mungkin di antara mereka ada yang memberi jawaban dan juga tidak menjawab apa apa. Tapi kedua hal tersebut akan tetap membuat kita berpikir, bahwa kitalah yang menyebabkan suatu perubahan tersebut terjadi. 

Tibalah saat saat merenung, tibalah saat saat kita mencari kesalahan dalam hal hal yang selama ini telah dilakukan. Percayalah, bagian ini adalah yang tersulit, kawan. Belum tentu kesalahan yang kita temukan dalam diri kita adalah kesalahan yang menjadi alasan perubahan sikapnya. Lalu, bagaimana jika kita tidak merasa bersalah sama sekali?

Pada akhirnya, kita hanya bisa memohon maaf. Kata “maaf” adalah salah satu senjata ampuh. Tetapi, bahkan maaf bisa saja tidak berhasil. Bagaimana jika dia memiliki tembok hati yang tak bisa ditembus dengan senjatamu itu?

Tibalah saat saat merunung. Lagi lagi merenung. Tapi kali ini, renungan itu ditambah dengan rasa harapan yang pudar, rasa cemas karena takut suatu perubahan tersebut tidak bisa dikembalikan seperti dulu lagi. Tidak jarang kita ingin meninju tembok dan melakukan hal hal yang dapat menyakiti diri sendiri, karena kekesalan yang tak tahu harus dilampiaskan ke siapa.

Adlanotes

Lalu bagaimana? Apa ‘jawaban’ dari permasalahan yang rumit ini?

Terkadang, walau sebuah kesalahan dikatakan datang dari diri kita, belum tentu itu benar. Manusia tak jarang lupa, bahwa mereka perlu melihat dirinya sendiri lebih dalam lagi, sebelum mengatakan opininya kepada orang lain.

Tentu kita paham di bahwa di dunia ini, yang dikira salah sebenarnya belum tentu juga salah. Jika kita, sebagai yang “dituduh”, telah berintrospeksi diri merasa tidak ada yang mengganjal, maka ada sebuah kemungkinan bahwa kesalahan tersebut berada di dalam mereka yang memberikan “tuduhan” tersebut kepada kita.

Tetapi, ada satu hal yang harus dipahami juga.

Bagaimana jika suatu kesalahan yang ditujukan kepada kita adalah sebuah kebohongan?

Bagaimana jika dia menginginkan perubahan tersebut tanpa alasan yang jelas, dengan berbohong bahwa kita telah melakukan suatu hal yang fatal, padahal kesalahan yang ia maksud adalah diri kita secara keseluruhan?

Dengan kata lain, mungkin saja dia sudah tidak nyaman dengan dirimu yang sekarang ini.

Susah untuk mengetahui isi hati orang lain. Dan logika dalam konteks kejadian seperti ini juga berbeda beda.

“Semua orang berubah. Hal-hal menjadi rumit. Momen kampret makin banyak. Tapi, hidup harus terus jalan.”

Gue percaya, semua itu terjadi karena ada alasannya. Sesuatu berubah agar kita bisa belajar untuk melepaskan. Semuanya jadi serba salah itu supaya kita bisa menghargai saat saat semuanya sedang baik baik saja.

Kita harus belajar untuk dapat menerima dan melepas. Jangan biarkan suatu perubahan memengaruhi kehidupan kita terlalu lama. Segeralah adaptasi, lalu berpikir positif. Mungkin saja dengan perubahan yang memburuk terhadap suatu hubungan ini, akan membuat perubahan dalam hubungan yang lain menjadi lebih baik.🙂

--- Terinspirasi dari temen yang hatinya baru aja dirobek robek.
 --- Sumber foto : rebloggy.com

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s