SMP Di Luar Negeri

Btw, ini lanjutan dari post sebelumnya.

First Day Of Freaking School

Sekolah gue bernama Darwin Middle School. Sekolah ini adalah SMP, sedangkan gue sewaktu pindah masih menduduki bangku kelas 6 dan belum mendapat ijasah SD karena pindah ke Australia sebelum Ujian Nasional. Akan tetapi, untuk masuk salah satu SMP di kota Darwin nggak membutuhkan ijasah SD. Setidaknya, hanya di tes kemampuan bahasa inggris. Simple, nggak usah repot repot. Begitu pula dengan tahun ajarannya yang berbeda dengan Indonesia. Tahun ajaran dimulai pada bulan Januari, sedangkan di Indonesia dimulai pada bulan Juli. Jadi, jika temen temen gue masuk SMP kelas 1, gue udah SMP kelas 1 semester 2.

Bel masuk kelas adalah pada jam 8.00 dan pulang sekolah pada jam 2.30. Ini beda banget dengan Jakarta yang masuk sekolah pada jam 6.30 dikarenakan oleh macet. Tapi, kota Darwin nggak pernah macet. Kalaupun macet, pasti karena ada sesuatu yang terjadi seperti tabrakan dan semacamnya. Seragamnya kaos berkerah dan celana hitam pendek. Seperti yang dikira banyak orang, sekolah di luar negeri seragamnya bebas, tapi di Darwin cuma SMA yang boleh pakai baju bebas. Tibalah saatnya gue masuk sekolah tersebut.

Sekolah gue ini adalah sekolah negeri. Walaupun judulnya sekolah negeri, jangan bayangkan fasilitasnya seperti sekolah negeri di Indonesia, karena fasilitas sekolah di sini hanya bisa kita temui di Indonesia pada sekolah-sekolah internasional atau sekolah swasta elite dengan biaya bersekolah yang teramat mahal tentunya. Fasilitasnya sangat lengkap. Tiap ruangan, kira kira tersedia 20 laptop jika ada tugas yang berkaitan dengan internet. Di ruang musik juga ada banyak banget instrumennya! Keyboard kira kira ada 10. Gitar ada 20. Lahan olahraga seluas lebih dari lapangan sepak bola untuk pelajaran olahraga. Peralatan masak yang lengkap untuk pelajaran Home Economics (masak) dan juga fasilitas Gym yang dibuka saat istirahat.

Pada hari pertama, gue temenin sama nyokap dan bokap naik bus ke sekolah. Pada hari hari selanjutnya, nyokap bilang udah harus bias naik bus sekolah bareng sama temen temen yang lain. Gue, nyokap dan bokap harus duduk duduk dulu di Tata Usaha karena ada hal yang harus diurus. Lalu, datanglah seorang guru perempuan, yang umurnya masih sekitar 20-an kayaknya. Ternyata dia guru gue. Dia senyum ke arah gue, lalu ngomong sesuatu dalam bahasa inggris.

“Okay, les camm to our clazz. Iz thhsi yoarsa feesst deii? Yuweil be fine!”

Dalam hati gue: HAH?! BAHASA INGGRIS ATAU BAHASA BUBUR TUH?

Kira kira, itulah yang gue denger dari dia. Ya pokoknya gue pamit sama orang tua, terus ngikutin dia jalan ke kelas. Keluar dari ruang tata usaha, gue deg deg-an banget. Ini di sekeliling gue orang bule semua. Ngomongnya cas cis cus. Terlebih lagi, orangnya tinggi tinggi. Gue merasa kayak yang paling pendek di sekolah ini. Lalu, gue ke kelas. Semua orang pada ngeliatin gue.

 

That awkward moment, when the whole class stares at you, because you’re the new kid.

Gue bengong. Gak ada satupun murid yang nggak ngeliatin gue. Guru gue bilang ke gue “Go and introduce yourself.” Murid baru tentunya harus memperkenalkan diri. Di rumah, gue sudah menyiapkan apa yang harus dibicarakan saat perkenalan. Dulu waktu kursus bahasa Inggris di EF, gue biasa di panggil “Heycool” atau “Haykel” oleh guru guru bule. Jadi gue memutuskan untuk memperkenalkan nama “Haikal” dengan panggilan yang sama. Biar keren dikit lah.

“My name is Haykel, I’m from Indonesia. Nice to meet you.”

Habis itu, gue disuruh duduk sama gurunya. Anak anak laki laki dikelas langsung nyodorin tangannya ke gue. Yah, langsung gue salamin aja. Setelah itu mereka terlihat bingung, dan bilang, “That’s not how you do it in Aussie.” Si orang yang ngajak gue salaman tiba tiba megang tangan gue, lalu memperagakan salam khas Australia. Terus, dia bilang “Do you get it?” Karena masih bingung, gue cuma bilang “yes yes yes” doang.

Saat istirahat, nggak ada murid yang dibolehin untuk masuk ke dalam kelas. Jadi semuanya harus berada di luar. Iya, tas juga harus ditenteng. Saat istirahat gue cuma duduk di kursi aja, sambil ngeliatin orang orang yang ada di sekitar. Dari situ, gue mulai berpikir bahwa kehidupan gue yang baru ini bakal lebih keras dan susah. Kehidupan baru, semangat baru. Semangat yang kurang semangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s