Pindah Ke Negara Australia

Kayaknya dulu dulu gue belum pernah ngasih tau detail tentang gimana gue bisa ada di negara Australia sekarang. Jadilah gue buat postingan yang lumayan panjang tentang itu. Met baca, awas matanya perih karena isinya lumayan banyak.

Nyokap dan bokap gue mempunyai tujuan untuk menyekolahkan gue dan kakak perempuan gue di luar negeri. Pokoknya mereka mau kita pintar dalam berbahasa inggris. Padahal gue sudah bertahun tahun kursus di EF dan ILP tapi masih aja mereka belum puas.

Ternyata orang tua gue bukan sekedar ngomong aja. Mereka bener bener pengen nyekolahin gue dan kakak gue ke luar negeri. Saat itu nyokap (bukan gue) dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di negara Australia. Kalau nggak salah, itu waktu gue kelas 5 SD. Gue langsung cerita ke temen temen bahwa gue kayaknya akan pindah sekolah ke luar negeri. Temen temen gue langsung nggak percaya. Pastinya nggak percayalah karena gue yang masih SD gini pindah ke luar negeri, karena memang hal yang kayak gini itu sangat jarang terjadi. Gue sendiri juga sebenarnya nggak mau percaya kalau nyokap gue dapat beasiswa ke luar negeri.

Waktu berjalan, sampai gue kelas 6 SD, gue juga masih belum pindah ke luar negeri. Temen temen mulai melupakan apa yang gue kasih tau ke mereka. Gue juga sebenarnya mulai lupa bahwa gue akan keluar negeri nantinya. Lalu datanglah kabar dari universitas nyokap gue bahwa dia akan berangkat ke Australia bulan November 2010. Tadinya, gue pikir hal tentang beasiswa ke luar negeri ini nggak jadi atau dibatalkan. Sialnya, cuma ditunda.

Kakak gue selalu kesel dan marah-marah tiap orang tua gue mulai ngomongin soal kepindahan ini. Dia komplen karena dia harus pindah saat masa masa SMAnya. Gue dan sekeluarga pindah ke Australia tepatnya pada kota Darwin, bagian Australia Utara. Dulu, gue cuma tau kota Sydney, Melbourne, Canberra, sama Perth. Gue nggak pernah denger yang namanya Darwin. Ternyata Darwin itu kota yang kecil dan sepi. Penduduknya sekitar 150.000 doang. Saking sepinya, jam 9 malem udah jarang banget mobil yang lewat. Yang lebih parah lagi, cuacanya lebih panas dari Jakarta. Panasnya ini udah panas tingkat dewa.

Tentunya, gue harus ninggalin SD gue dan temen temen. Itulah yang paling menyedihkan dalam soal kepindahan ini. Walaupun Cuma 6 tahun, tapi udah banyak banget kenangan yang tersimpan diantara kami semua. Hari terakhir di sekolah, gue nangis (padahal gue macho). Yang lain juga ada yang nangis, tapi nggak tau deh kalau itu karena gue, atau sepatunya yang udah dicari cari tapi nggak ketemu ketemu. Terima kasih ya buat semua temen temen SD gue. Kita mungkin tak selamanya bersama, tapi hati kita akan selalu bersatu. Oh iya, yang masih ngutang pokoknya nanti bayar ya pas gue balik dari Aussie (sebenernya gue yang ngutang). I lap yu.

Pada hari keberangkatan gue, Pagi-pagi di rumah gue udah rame banget. Ada nenek-nenek gue, bibi, kakak sepupu, dain lain lain. Pokoknya banyak banget deh, kayak sebuah pasukan yang siap untuk menjelajahi bandara. Saat itu barang barang gue belum semuanya siap,  mungkin karena saking nggak niat untuk pindah ke luar negeri. Setelah sekian lama, 4 koper sebesar bagong berjeret di ruang tengah rumah gue. 1 buat barang-barang gue, 1 buat barang-barang kakak, 1 buat barang-barang orang tua, dan 1 buat barang-barang lainnya dan makanan. Kira-kira jam 11, tante, om dan sepupu gue semuanya pada dateng ke rumah, mereka mau ikut mengantar ke bandara. Rencana awalnya jam 12 kita mau berangkat tapi kenyataanya jam 1 baru berangkat padahal pesawatnya jam 3. Begitulah, saking nggak niat untuk berangkat ke luar negeri.

Semua koper akhirnya udah masuk ke mobil. Kita semua mulai masuk ke mobil yang jumlahnya ada tiga kalau nggak salah. Tapi kakak gue belum juga masuk mobil. Kita semua bingung kenapa dia belum juga masuk mobil, padahal bisa ketinggalan pesawat. Lalu, sodara gue bilang, “Itu kayaknya ada orang.” Lantas, gue tau siapa orang yang baru datang itu. Pangeran yang ditunggu tunggu kakak gue akhirnya datang juga bersama kudanya. Eh, motornya deh. Kakak gue langsung nangis parah karena akan berpisah dengan pacarnya. Rasanya gue pengen bilang “Kak, you must move on. Nanti palingan juga ada orang bule kece yang naksir kakak.” Tapi gue baru nyadar kakak gue itu gak cakep cakep amat, makanya gue nggak jadi ngomong ke dia.

Gue agak telat sampai ke bandara Soekarno Hatta. Gue yang biasanya ke terminal 1 atau 2 yang menurut gue agak jelek dan kotor, sekarang ke terminal 3 yang sangat keren dan kinclong. Kita semua turun dari mobil dan ikut masuk ke bandaranya. Habis itu, tiba saatnya mengucapkan “Sampai jumpa” kepada semuanya. Peristiwa yang diimipi burukkan itu terjadi. Gue pindah ke Darwin, Australia. Sabtu, 5 Februari 2011.

Gue berangkat hanya bersama bokap dan kakak. Karena nyokap gue sudah ada di sana sejak November 2010. Di pesawat, gue cuma bisa sedih sambil membayangkan seperti apa negeri Australia ini. Menurut orang orang, negara luar sangatlah ramai, penuh dengan gedung gedung tinggi, tidak ada perkampungan, bersih, udara yang dingin, dan bahkan bersalju. Akan tetapi, kota Darwin justru tidak seperti yang orang orang bayangkan. Gedung gedung tinggi cuma ada di daerah tertentu. Penduduknya pun sedikit. Gue berpikir, ‘Apakah kita salah tempat tujuan? Atau transit?’ Tidak. Inilah kota Darwin. Jarang sekali gedung gedung tinggi, sepi, dan sangat panas seperti Jakarta. Nyokap menjemput kami bertiga di bandara. Kita langsung naik taksi ke rumah. nyokap gue mengontrak rumah milik orang Indonesia dan bukan cuma nyokap gue yang tinggal di sana. Ada beberapa orang Indonesia yang tinggal di rumah yang sama. Di perjalanan menuju rumah, gue tidak bisa melihat apa apa karena saat itu masih agak malem dan gue ngantuk banget. Sesampai di rumah, gue juga langsung tidur.

Bangun bangun, gue sadar bahwa semuanya sudah berubah. Matahari pagi tidak bersinar seperti biasanya (padahal gue di dalem rumah dan gordennya ketutup). Gue keluar kamar untuk melihat sekeliling rumah. Melihat televisi yang lumayan gede, gue gak sabar untuk memasang PS3 yang gue bawa dari Indonesia. Saat lagi memasang kabel kabel PS-nya, keluarlah seseorang dari kamar lain. Gue memanggilnya “Kak Nanda”, dia kelas 3 SMP dan datang sebulan lebih dulu dari gue. Bisa dibilang, temen pertama gue di Darwin. Kita juga suka main PS barengan.

Pagi paginya, gue nggak punya waktu santai santai di rumah baru gue. Orang tua gue mengajak kami untuk keliling kota Darwin. Kata nyokap kami cuma menetap di rumah yang sekarang untuk sementara doang karena kamar untuk kami cuma satu, sedangkan yang anggota keluarga ada empat. Jadi harus segera cari rumah yang baru. Saat itu kami belum mempunyai mobil, jadi jalan jalannya naik bus umum. Saat pertama kali naik bus, gue nggak suka sama baunya. Aromanya wangi, tapi asem gimana gitu. Kayak lagi nyium bau parfum sama nyium ketek orang secara bersamaan.

Sebelum cari rumah, tujuan pertama adalah mengunjungi sekolah gue dan kakak gue. Sekolah gue bernama Darwin Middle School sedangkan kakak gue bernama Darwin High School. Nyokap dan bokap mau ngurusin tentang pendaftaran dan segalanya. Ternyata pendaftaran nggak perlu pas awal semester aja. Tapi gue juga bisa masuk di tengah tengah semester. Pas kami mengunjungi sekolahnya, anak anak lagi pada istirahat. Jadi kelihatanlah suasana sekolahnya. Habis itu, kami ke mall terbesar di Darwin yang bernama Casuarina Square. Mallnya terbesar karena cuma ada satu di kota itu. Besarnya aja nggak sebanding dengan Mall Metropolitan Jakarta. Gedung gedung tinggi atau kantor kantor juga ada di daerah yang orang orang Darwin bilang sebagai ‘City’. Yah, kota ini memang aneh. Beda banget sama yang ada di perspektif gue tentang negara luar.

Lanjut di next post ya

7 Comments

    • saya masih SMP kak haha, nyokap yang kuliah. Belum sempet foto bareng kangguru niih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s