Aku Ingin Melihat Suasana Perang

Hari masih gelap dan angin bertiup kencang di pagi hari. Tadi malam lebih mengerikan. Badai. Hanya mengingat itu membuatku gemetar. Aku kembali tidur untuk melupakan tentang hal itu.

Sudah satu jam sejak aku pergi tidur lagi. Aku melihat ke kanan saya. Ayah sudah pergi bekerja. Aku ingin bermain dengan dia dan Aku ingin dia mengajariku hal-hal aru. Dia adalah seorang ayah yang hebat. Dia selalu bekerja dari matahari terbit sampai siang. Aku memanggil ibu, tapi tidak ada yang menjawab. Aku memanggil lagi keras. Namun, masih tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba, aku mendapat perasaan bahwa tidak ada seorang pun di rumah. Lonceng di pusat desa tiba tiba berdering. Benar-benar keras. Lonceng biasanya mengingatkan kita ketika waktu menunjukkan pukul 12 siang. Sedangkan, ini masih sekitar jam 8 pagi. Kata ayahku, jika bel berbunyi tidak pada saat jam 12, artinya, itu tanda tanda bahwa ada musuh yang menyerang. 

Aku segera pergi ke luar rumah. Semua orang di sana sangat ketakutan dan berlari menuju bangunan aula desa. Orang-orang selalu pergi ke aula ketika ada musuh. Tapi aku tidak pernah pergi ke sana. Aku ingin melihat suasana perang. Jadi aku memanjat sebuah rumah dan melompat ke rumah-rumah lain dengan hati hati. Aku sering melakukan hal ini. Aku sudah terbiasa melompati rumah dan memanjat. Ibuku tidak akan khawatir tentangku karena aku selalu berbohong tentang di mana aku berada. Aku bilang ke Ibuku bahwa aku selalu di tempat persembunyian milikku bersama teman teman yang lain, lubang bawah tanah. “TAK!”. Aku kaget! Aku pikir itu hanya suara batu dari atap rumah yang terjatuh ke bawah. Tapi tidak. Itu sebuah panah.

Aku mulai berlari. Tapi benar-benar sulit untuk berlari di atap rumah. Pemanah terus menembak dan menembak. Aku diajarkan bagaimana untuk menghindari serangan seperti panah oleh ayah sejak kecil. Lalu, aku mendengar sebuah teriak, dan aku sadar bahwa tidak ada buah panah yang mendatangiku lagi. Aku berbalik badan. Aku melihat tubuh si pemanah yang terkapar. Aku melihat seseorang selain dia. Seseorang yang kukenal. Ayahku telah datang menyelamatkanku.

Ayahku menatapku. Hal pertama yang datang ke pikiranku adalah bahwa ia akan menjadi benar-benar marah. Sebaliknya, ia mengatakan “Ayo anakku, akan ayah tunjukkan suasana perang!” Aku hanya bisa bengong, lalu berkata “Maksud ayah?” Lalu, ia berkata lagi, “Cepat naik ke atas kudaku.” Aku tersenyum, dan cepat cepat turun dari atap rumah dan pergi ke medan pertempuran. Dalam perjalanan, aku menoleh ke muka ayah. Dia tampak tidak marah. Sama sekali tidak

Ketika kami tiba, aku hanya menatap dengan diam pada perkelahian dan tubuh tubuh yang terlentang di mana mana. Ada banyak orang yang tewas. Namun masih banyak orang berkelahi di sana. Seorang pria besar menerjangku dengan pedangnya. Tapi ayahku melindungiku dan menebasnya dengan pedang. Seorang pria lain datang ke arah kami. Ayahku terkena ujung pedang di tangan kirinya, akan tetapi langsung membalasnya. Walaupun bukan posisi paling teratas, tetapi Ayahku adalah salah satu prajurit yang terhebat. Setelah beberapa saat, musuh mundur. Itu tampak bagi saya bahwa itu semua karena ayahku.

Suasana perang memang mengerikan. Tapi entah ada suatu bagian diriku yang merasa agak ‘senang’. Suatu saat nanti, aku juga akan bertarung untuk negaraku, seperti ayah. Ayah mendapat banyak luka dari sebagian serangan panah dan pedang, tapi itu semua karena untuk melindungiku. Ayahku berkata “Jadilah orang yang ingin melindungi sesama, karena jika orang yang ingin dilindungi ada disampingmu, kamu akan menjadi semakin kuat!” Saat itu aku cuma bisa senyum. Aku tersadar bahwa aku memiliki ayah yang sangat hebat. Paling hebat di dunia. Dan aku nantinya akan menjadi lebih hebat lagi darinya. Sebagai ayah, dan juga prajurit perang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s